Minggu, 24 Februari 2008

AA GYM dan A1 Pada saat AA belum beristri 2 Lho


A1 pada saat berkunjung ke Ponpes Darut Touhid di Bandung, saya berkesempatan berfoto bersama AA Gym, tapi pada saat itu Ponpes tersebut masih ramai dan penuh sesak dengan Kaum Hawa dan juga kaum Adam, serta para pedagang, peminta2, dan para pengunjung lainnya baik tua maupun muda, Subhanaullah pada saat itu Ponpes tersebut banyak mengilhami dan bermanfaat bagi banyak orang, tapi terakhir informasi dari teman2 saya bahwa sekarang Ponpes tersebut sudah banyak berkurang dalam segala hal yg saya sebutkan diatas, tapi inilah gambar kenangan saya dan AA Gym pada puncak kejayaan Ponpes tersebut, meskipun demikian, perlu tetap dicatat bahwa Ponpes tersebut pernah memberikan Aura Positif bagi Masyarakat disekitarnya, mudah2an hal tersebut dapat mengilhami masyarakat yang lainnya untuk meniru hal positif yg telah dilakukan Ponpes tersebut, yang negatifnya buang aja deh, gitu aja kok repot.

6 komentar:

Ibnu Setiyadi mengatakan...

Uhui...................
Wah................bapak A1 memang TOP.

Dilihat dari foto-a aza udah keliatan, yang pantes jadi "UZTAD" adl bapak A1.

Dilihat dari cara memberikan informasi-a jg udah keliatan, yang pantes menyandang gelar "GURU" adl bapak A1.

Diliat dari sifat penyantun dan setia-a jg udah keliatan, yang paling sayang ma istri adl bapak A1.

He...........he...........
Kalo yg ke tiga becanda tp beneran.

Untuk foto di sebelah bapak A1 jangan tersinggung yach........
Abis, bapak A1 emang gitu sich di mata saya, udah keliatan baik dari dulu.

Bravoooooo........ bapak A1.
Jangan lupa mampir ke Semarang
Salam untuk keluarag bapak A1 di Situbondo

Ibnu Setiyadi - Semarang

PUTRA PRATAMA mengatakan...

Assalammualaikum Wr.Wb

Bapak kami, ayah kami, teman kami, rekan kerja kami, atasan kami yang tercinta dan yang tidak akan pernah kami lupakan semoga selalu dalam keadaan sehat walafiat

Dan semoga Keluarga selalu dalam lindungan Allah SWT

Tinggal 10 bulan lagi Pak pak langkah pertama kami akan kami selesaikan, watak, mental dan pribadi kami terbentuk itu semua tidak lepas dari perjuangan Bapak selama ini

Kenangan-kenangan yang tercipta tak akan bisa saya lupakan, sosok kepemimpinan Bapak yang tegas tapi juga sering bercanda, kepribadian bpk yg luar biasa akan selalu jadi pedoman bagi saya pak untuk belajar seperti Bapak

Saya tidak bisa membalas apa-apa pak. Tapi akan saya tunjukkan pengabdian saya dg sebaik-baiknya kepada Organisasi kita, semoga Allah mendengar dan membimbing saya untuk bisa mewujudkan mimpi saya Pak

Terima kasih Bapak


PUTRA PRATAMA

Anggi Siahaan mengatakan...

Pak Ai aka A1, Sosok yg menjadi panutan bagi saya, pada khususnya dan saya yakin bagi rekan - rekan saya pada umumnya.. ga ada duanya! tidak lelah untuk terus yang namanya belajar.. saya saja yang notabenenya anak muda ga punya blogger, tau sih tau, tapi ga terlalu 'into' ke yang namanya blogger.. tp pak A1 ini, wuih.. bahasa kitanya 'minimal' pak.. ehehe, terus maju pak! Jangan lupakan kami pak di wilayah nanti..

Unknown mengatakan...

wah, artikelnya informatif.

seneng bacanya, dan saya harap sifatnya informatif ajah ya Pak.

salam kenal dari semarang kota atlas

Unknown mengatakan...

cukup dengan tatapan mata dan senyuman yang khas mungkin kita bisa menggambarkan sifat dari pak A1...
kami semua merindukan kediran bapak
jangan lupa mampir-mampir lagi pak ke kampung halaman di Semarang

Semoga Allah SWT selalu memberkati bapak dan sukses selalu

Anonim mengatakan...

BUKAN RAKYAT YANG GELISAH ???

Mengapa rakyat selalu diabaikan/dimarjinalkan ?
Apakah ini terjadi tanpa sebab ?
Apakah ini terjadi karena para pejabat pemerintah berpikir
“Ah yang rewel khan kelompok itu-itu saja, rakyat kebanyakan toh tidak segelisah kelompok itu”

Benarkah begitu ?
Rakyat kita tidak gelisah ?
Bila kita mau memperhatikan, sebenarnya rakyat sangatlah gelisah, tidak puas pada keadaan.
Mereka juga tidak suka pada keadaan yang ada.
Hanya saja mereka sangat tidak Artikulatif ,
Tidak terucapkan perasaan-perasaannya
Dan tidak mempunyai kemampuan linguistik untuk mengutarakannya.

Janganlah kita berpikir hitam putih,
bahwa karena rakyat tampak diam lalu rakyat dianggap tak gelisah.

Anggapan semacam itu sungguh menyakitkan

Diamnya si bisu bukan karena tak gelisah
Tapi bisa jadi karena ketidakmampuannya untuk menyampaikan kegelisahan

Kita yang merasa waras harusnya berempati..
Bukan malah melepas tanggung jawab
Dengan mencaci pihak yang memahami kegelisahan si lemah